Perisakan Siber, Sisi Gelap Dunia K-pop

PERISAKAN siber (Cyber Bullying) menjadi atensi baru di Korea Selatan. Hal ini menyusul bunuh diri bintang K-pop yang terjadi dua kali berturut-turut dalam sebulan terakhir.

Perisakan siber menimpa bintang-bintang muda yang rentan secara mental, dan ironisnya para pelaku perisakan tak pernah dihukum.

Seperti dilansir Reuters, pihak kepolisian setempat kini mulai menanggapi kekerasan dunia mata sebagai kejahatan yang serius. Mereka mengususng program edukasi publik agar seseorang tidak menjadi korban, maupun sebaliknya sebagai pelaku perisakan siber.

Tuduhan perisakan siber di negara tersebut meningkat hingga 150.000 kasus tahun lalu. Namun jumlah tersebut hanya gambaran kecil dari apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini tidak seperti kekerasan fisik, dimana (luka fisik-red) bisa diobati dengan pergi ke dokter. Namun tidak dengan kekerasan dunia maya, tidak ada obatnya,” ujar Jeon Min-su, penyelidik kejahatan siber dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul.

Seperti diketahui, penyanyi K-pop Goo Hara ditemukan tewas di kediamannya pada Minggu lalu. Polisi menemukan catatan yang ditulis Goo Hara tentang keputus asaan.

Media lokal setempat memberitakan, Goo Hara menjadi sasaran perisakan siber terkait hubungan asmaranya.

Goo Hara sebelumnya pernah ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya pada Mei lalu. Sebulan setelah kejadian tersebut, ia mengungkapkan bahwa ia menderita depresi dan bertekad menentang penindasan dunia maya.

Goo berteman dengan bintang K-pop lainnya, Sulli, yang ditemukan tewas pada Oktober 2019. Sulli juga secara terbuka menentang perisakan siber.

Dunia musik K-pop begitu populer di seluruh Asia, namun memiliki tabir gelap dibalik industri tersebut. Awal tahun ini, sejumlah bintang K-pop pria dan salah satu produsen industri K-pop diinterogasi pihak kepolisian sehubungan dengan perjudian ilegal dan prostitusi.

Kwon Young-Chan, komedian yang kini menjadi konselor mengatakan bahwa para bintang K-pop kesulitan untuk menghadapi serangan siber. Bahkan, dia mangatakan, hampir tidak mungkin untuk menghindari rumor dan serangan-serangan pribadi tersebut.

“Ketika para pelaku menulis komentar yang kejam, awalnya mereka akan mulai dengan ‘ketukan ringan’. Kemudian skala intimidasi siber meningkat menjadi ‘pukulan’,” ujarnya dalam sebuah wawancara, seperti dilansir Reuters.

Rumor dan serangan pribadi tersebut, dapat sangat mempengaruhi kehidupan pribadi sang bintang K-pop.

Kwon mengatakan, baik Sulli maupun Koo sebelumnya tergabung dalam girl bands yang kemudian diketahui berpisah. Hal ini membuat keduanya dalam kondisi lebih rentan.

“Setelah mereka mulai tampil solo, mereka harus berurusan dengan depresi dan serangan terhadap mereka semua sendirian,” ujar Kwon, yang juga mengaku pernah mengalami perisakan siber.

Anggota parlemen, Park Sun-sook mengatakan saat ini adalah waktu bagi dunia untuk membantu para bintang muda dari serangan dunia maya. Park Sun-sook merupakan mantan juru bicara kepresidenan yang pertama kali menangani masalah serangan online di Korea Selaran pada 1998.

“Bintang muda terpapar tanpa pertahanan terhadap kekerasan dunia maya. Sudah waktunya bagi hukum dan juga seluruh warga untuk membantu melindungi mereka,” ujarnya kepada Reuters.***

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top