Kemandirian Pangan Memegang Peran Penting di Kota Bandung

image_750x_5ef32b9f64150.jpg

www.juarajabar.com  Kota Bandung – Pengembangan penganekaragaman dan pengembangan pangan fungsional secara tersistem dan berkelanjutan diperlukan berbagai regulasi yang perlu disempurnakan dan dikembangkan. Investasi perlu diarahkan secara proporsional, baik di sektor ekonomi maupun sosial. Oleh karena itu Walikota Bandung Meresmikan kelompok Kebon Sauyunan di Kelurahan Sarijadi Kecamatan Sukasari Kota Bandung, Rabu (24/6/2020).

Dengan memanfaatkan teknologi, Kota Bandung bisa beradaptasi dan tetap bisa menghadirkan kemandirian pangan di tengah-tengah keluarga. Saat ini telah banyak metode bercocok tanam di perkotaan yang bisa dipraktikkan oleh semua orang.

Adapun Kebun Sauyunan ini digerakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kebun Sauyunan.Kelompok ini telah berdiri sejak tahun 2016. Ini menjadi urban farming terintegrasi karena memiliki berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang dipelihara sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat serta mewujudkan kemandirian pangan.

Ada sekitar 100 jenis tanaman yang dipelihara oleh KWT, mulai dari tanaman herbal, sayuran, ikan, hingga ayam.

“Mang Oded sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada warga, khususnya KWT RW 03 bahwa setiap keluarga begitu senang berkebun. Mudah-mudahan ini merupakan bagian dari respon positif warga RW 03 Kelurahan Sarijadi terhadap program Pemerintah Kota Bandung. Dapat meningkatkan kemandirian keluarga di dalam mengendalikan inflasi daerah,” tutur Oded.

Menurutnya, saat ini kemandirian pangan menjadi penting. Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di Kota Bandung telah memberikan pelajaran bahwa ketahanan keluarga, terutama perihal pangan, menjadi benteng yang akan melindungi keluarga.

“Mimpi saya ke depan sangat sederhana. Saya mau membangun Bandung ke depan agar warga Bandung punya kemandirian pangan. Mungkin orang mah bingung, kumaha bisa mandiri pangan da urang teu boga sawah (kita tidak punya sawah),” tuturnya.

Namun dengan memanfaatkan teknologi, Kota Bandung bisa beradaptasi dan tetap bisa menghadirkan kemandirian pangan di tengah-tengah keluarga, lanjut Oded. Saat ini telah banyak metode bercocok tanam di perkotaan yang bisa dipraktikkan oleh semua orang.

Oded telah menjadikan di rumah dinasnya, Pendopo Kota Bandung, sebagai purwarupa urban farming terintegrasi. Ketimbang tanaman hias, Oded dan istrinya lebih banyak menanam sayuran dan tanaman obat keluarga di Pendopo.

Selain itu, Pendopo juga sudah tidak lagi menghasilkan sampah, sebab seluruh sampahnya sudah dimanfaatkan habis di sana dan tidak ada yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

“Sampah organiknya kita olah untuk budidaya maggot. Maggootnya kita jadikan pakan ikan dan ayam. Mang Oded juga punya kelinci. Sebagian juga dipakai untuk pupuk sayur-sayur Mang Oded. Silakan dilihat, datang ke Pendopo. Setiap hari Minggu kan kita buka untuk masyarakat, silakan,” tutur Oded.

Selain peresmian Kebun Sauyunan, KPW ini juga menerima bantuan berupa 20 unit damber dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat. Kebun Sauyunan menjadi satu dari tujuh kelompok berkebun di Kota Bandung yang mendapatkan bantuan dari Bank Indonesia.

“BI memberikan bantuan berupa budikdamber (membudidayakan ikan dalam ember). Damber itu satu paket, ada pohonnya, ada lelenya. Satu kebun 20 unit,” jelas Kepala Bagian Perekonomian Asep Saeful Gufron.

Enam kelompok berkebun lainnya yaitu Kelompok Berkebun 04 Pacing Kel. Cisaranten Kidul Kec. Gedebage; KWT Kurdi Asri Kel. Karasak Kec. Astanaanyar; Kelompok Tani Cigirincing Berkebun Kel. Pasir Endah Kec. Ujungberung; Kelompok Berkebun Usaha Mandiri Usaha Bersama JUU Agro Kel. Margasari Kec. Buah Batu; Kelompok Berkebun Sauyunan Mandiri Kel Ciseureuh Kec. Regol; dan Kelompok Berkebun Buruan SAE Kel. Margahayu Utara Kec. Babakan Ciparay.

Guna mewujudkan visi Wali Kota Bandung dalam ketahanan pangan, Asep pun menargetkan agar setiap kelurahan setidaknya memiliki satu kelompok berkebun terintegrasi. Pihaknya akan berusaha mencarikan bantuan agar setiap kelompok berkebun itu juga bisa berkembang seperti layaknya Kebun Sauyunan.

“Garapan kita di setiap kecamatan ada, dan bahkan hingga ke kelurahan. Kita akan intensif kerja sama dengan BI untuk bantuan dalam rangka membangun buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis),” ujar Asep.

Share this post

scroll to top